| 1 tahun lalu | dibaca 1195 x
Pernyataan Irshad Manji

Sejumlah diskusi yang menghadirkan penulis buku Allah, Liberty and Love diwarnai kekerasan dan kericuhan. Di Salihara, diskusi terpaksa dibatalkan karena diserbu oleh orang-orang yang sebagian mengaku dari FPI. Di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) diskusi juga didatangi oleh sejumlah orang beratribut sama, meski tak sampai ada penyerbuan. Terakhir di LKiS Jogja, di mana diskusi didatangi oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan MMI. Mereka berteriak-teriak mencari Manji, memecahkan kaca dan melukai beberapa orang.

Bagaimana tanggapan Irshad Manji terkait kekerasan yang ditujukan ke dirinya? Berikut surat pernyataan penulis Kanada tersebut.

 

Pernyataan Irshad Manji dalam dua bahasa, perihal penyerangan terhadap diskusinya di kantor LKiS, Yogyakarta, Rabu, 9 Mei 2012, pkl 19.
----
Media Statement Oleh Irshad Manji, 10 Mei
 
Empat tahun yang lalu, saya datang ke Indonesia dan merasakan sebuah negara yang penuh dengan toleransi, keterbukaan dan pluralisme. Karena itu, saya menyebutkan di dalam buku baru saya, “Allah, Liberty and Love”, bahwa Indonesia adalah contoh yang patut ditiru negara-negara muslim lainnya.
 
Namun sekarang banyak hal berubah. Seperti yang terjadi tadi malam, di kantor LkiS, sekelompok preman berjubah agama menyerang 150 peserta diskusi sampai terluka, termasuk di antaranya asisten saya, Emily Rees. Ia dipukuli berkali-kali dengan besi panjang dan harus dilarikan ke rumah sakit. Lengannya terluka dan harus dibalut perban. Dua peserta diskusi lainnya mengalami luka cukup parah di kepala. Dan saya mengatakan kepada mereka bahwa, dengan rahmat Allah, mereka akan segera pulih.
 
Tapi tidak demikian dengan para kriminal yang menyembunyikan wajah mereka di balik masker dan helm, sambil memukuli orang-orang tak bersalah dan melakukan perusakan. Mereka adalah pengecut!
 
Sebaliknya, ada juga para pemberani yang rela berkorban menyelamatkan nyawa saya. Di saat para kriminal tersebut berteriak-teriak, “Mana Manji? Mana Manji?”, orang-orang berjiwa pemberani tersebut menjadikan tubuh mereka sebagai perisai yang melindungi saya. Saya sangat terharu dengan keberanian mereka. Mereka telah memperlihatkan bahwa orang-orang Indonesia bisa bersatu demi martabat dan nilai-nilai kemanusiaan.
 
Tidak sedikit yang mengatakan kepada saya bahwa polisi dan pemerintah Indonesia tunduk begitu saja kepada para preman tersebut. Tapi masyarakat Indonesia tidak boleh ikut tunduk kepada mereka! Semoga seluruh masyarakat Indonesia bangga dengan—dan belajar kepada—para pahlawan perdamaian mereka.
 
Irshad Manji
Penulis “Allah, Liberty and Love” dan Direktur Moral Courage Project, New York University

 

People+Community

Science+Technology

Sport+Health

Creative+Business

Art+Culture

Syndicate Blogs

Agenda
VOTE: Voice from the East
Glen Fredly, Edo Kondolongit dkk
Yogyakarta, 14 April 2012

Breaking News

1 tahun lalu | baca: 1196x
1 tahun lalu | baca: 3453x
2 tahun lalu | baca: 2417x
2 tahun lalu | baca: 1623x
2 tahun lalu | baca: 1895x
2 tahun lalu | baca: 2662x

Most Popular

2 tahun lalu | baca: 5661x
2 tahun lalu | baca: 5072x
2 tahun lalu | baca: 5016x
1 tahun lalu | baca: 4423x
1 tahun lalu | baca: 3453x
2 tahun lalu | baca: 2662x
2 tahun lalu | baca: 2452x

Contibutors

User Info
Online: 4
Member: 0 | Tamu: 4
Hari ini: 70
Total Visitor: 104392
Sejak 07/Feb/2011