Tak ada yang bermuka muram malam itu, di tengah temaram pencahayaan warna pink mereka saling berpelukan. Bagi yang tak pernah ke tempat ini pasti takkan menyangka bahwa lounge dengan dekorasi artistik dengan sofa dan bunga bermekaran tersebut semula adalah pedestrian. Ruang pejalan kaki yang telah disulap untuk penganugerahan DVF Award 2012, penghargaan tiga tahunan yang dianugerahkan bagi para perempuan yang memiliki dedikasi, keberanian dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar.
Oprah Winfrey, salah satu penerima penghargaan tersebut mendapat pelukan hangat dan pujian dari sahabat lamanya, Diane von Furstenberg, seorang desainer yang memiliki dedikasi pada kegiatan kemanusian. “Dia adalah orang yang paling tangguh yang pernah saya temui dalam hidup saya. Apa yang luar biasa tentang Oprah adalah bahwa dia telah melakukan begitu banyak namun dia masih seorang gadis kecil. Dia masih sangat murni dan Anda dapat membuatnya menangis dan tertawa begitu cepat…” Dan dengan gayanya yang khas Oprah pun menyanjung balik dalam pidatonya "Dia orang paling tangguh yang pernah saya temui dalam hidup saya."
Malam sanjung-menyanjung terus berlanjut. Jaycee Dugard, Perempuan luar biasa yang juga penerima penghargaan itu tak luput dari sanjungan Oprah Winfrey. Joycee adalah perempuan hebat yang pernah hidup dalam sekapan penculik selama 18 tahun. Ia diculik pada usia 11 tahun saat berjalan dari rumahnya ke halte bus South Lake Tahoe. Dalam waktu yang selama itu Joyce diperlakukan seperti budak, dipaksa melayani nafsu birahi sang penculik hingga akhirnya melahirkan dua anak dari hubungan yang menyakitkan itu. Dan setelah setelah bebas dari penyekapan pada 1999, ia dengan penuh kasih sayang dan semangat terus membesarkan kedua anaknya dan menatap dunia dengan mata terbuka. Dari pengalaman hidup yang perih itu Joycee mendirikan Yayasan JAYC yang bertujuan membantu orang pulih dari trauma penculikan dan pengalaman-pengalaman traumatis lainnya.
“Jaycee Dugard, I am so proud of you, your courage, your ability to press onward toward the future and toward a more victorious life for yourself, and for using your courage, your strength and your power to show the world that you care,” tutur Winfrey dalam Pidatonya.
Selain dua perempuan tangguh (Winfrey & Joycee), Penghargaan DVF 2012 yang disponsori Von Furstenberg& Diller-von Furstenberg Family Foundation dan pertama kali dibuat tahun 2010 untuk mengenali dan mendukung perempuan yang menggunakan sumber daya mereka, komitmen dan visibilitas untuk mengubah kehidupan perempuan laintersebut juga diberika kepadaLayli Miller-Muro dari Tahirih Justice Center, Panmela Castro dari Rede Nami di Brazil dan Chouchou Namegabe dari Assn yang Kivu Selatan.
Layli Miller-Muro merupakan pendiri Tahirih Justice Center, Lembaga Bantuan Hukum yang memberikan pendampingan dan advokasi cuma-cuma bagi Perempuan dan gadis dari berbagai belahan dunia yang lari dari pelecehan Hak Asasi Manusia dan telah sukses membantu 10.000 lebih perempuan imigran yang menyelamatkan diri dari berbagai tindak kekerasan dan sukses membawa diskursus Hukum Suaka berdasar Gender di Amerika. Layli Miller menorehkan pengalamannya bersama rekan kerjanya, Kassindja dalam sebuah buku berjudul “Do They You When You Cry?” Sedangkan Panmela Castro adalah perempuan di balik seni perempuan jaringan Rede Nami.
Perempuan yang terpilih sebagai “The Recipient Of This Year's People's Voice Award” adalah Chouchou Namegabe, seorang wartawan yang telah mendedikasikan pekerjaan dan hidupnya untuk membawa penderitaan perempuan Kongo ke panggung internasional. Namegabe memulai karir sebagai presenter radio Maendeleo, sebuah radio komunitas populer di Kongo. Dengan bersenjatakan microphone ia berperang melawan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang merajalela di negeri mungil di benua Afrika waktu itu. Pada 1993 bersama rekan-rekannya Chouchou Namegabe mendirikan Asosiasi Media Perempuan Kivu Selatan (Association des Femmes des Medias du Sud Kivu) yang kemudian dikenal dengan AFEM untuk mempromosikan perempuan Kongo dan membela hak-hak perempuan melalui media, hingga ia diundang sebagai salah satu Keynote Speech dalam KTT Aktivis Informasi Internasional di Clark University dan diekspose banyak media internasional sehingga kekejaman, kekerasan dan kebidabadan terhadap perempuan di Kongo mendapat perhatian dari dunia internasional.
Sungguh penghargaan yang diberikan kepada perempuan-perempuan luar biasa, dan barangkali tiga tahun lagi salah satu perempuan Indonesia ada yang berdiri di panggung menerimanaya. (Dari berbagai sumber)