Sore hari, 27 Januari 2009. Di ruang kecil berukuran tak lebih dari 4 x 4 di lantai satu Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, belasan warga Sukolilo, Pati, berdesak-desakan hendak bertemu Gus Dur. Sebagian besar adalah ibu-ibu sedulur sikep atau lebih dikenal dengan sebutan komunitas Samin, yang suami dan anaknya ditangkap aparat kepolisian terkait bentrokan yang terjadi di kampung mereka beberapa hari sebelumnya.
Sebelumnya, rombongan ibu-ibu yang ditemani sejumlah aktivis tersebut mendatangi Mabes Polri, Ombudsman dan Komnas HAM. Namun tampaknya itu belum cukup. Seorang ibu, dalam bahasa jawa, menyatakan bahwa Gus Dur adalah bapak mereka, dan mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi jika bukan pada Gus Dur. Karena meski mereka sudah mengadu ke Polri tapi mereka tidak yakin kasus yang menimpa anak dan suami mereka akan ditindaklanjuti.
Gus Dur, dengan penuh empati, mendengarkan satu-persatu keluhan dan laporan mereka. Setelah diam sejenak, Gus Dur pun membuka omongan. “Yang sabar ya ibu-ibu… Polisi itu emang begitu,” kata Gus Dur juga dalam bahasa Jawa.
“Saya ini juga orang Pati,” Gus Dur melanjutkan. “Kakek saya, Kiai Bisri, itu orang Pati. Waktu kecil saya sering main ke Bulumanis,” kata Gus Dur, menyebut sebuah kota kecil yang letaknya tak lebih dari 20 kilometer dari kampung ibu-ibu warga Sukolilo tersebut.
Setelah membuka percakapan dengan cerita bahwa sesungguhnya ia juga masih punya ikatan ‘tali persaudaraan’ dengan warga Sukolilo, Gus Dur meminta ibu-ibu tersebut untuk tabah dan melanjutkan perjuangannya. Gus Dur sendiri berjanji akan melakukan sesuatu, yang mana hal itu membuat sejumlah ibu-ibu warga pedesaan itu menangis.
***
Gus Dur adalah sosok yang membumi. Di mana pun ia berada, ia selalu berusaha menciptakan relevansi dan kontekstualisasi terhadap lingkungannya. Ia adalah manusia yang punya kepiawaian dalam mendekatkan diri dengan segala jenis manusia.
Sepanjang sejarah hidupnya, Gus Dur bergaul dengan siapa saja. Teman-temannya sangat beragam: mulai dari intelektual terkemuka dunia hingga kiai dan pendeta, mulai dari politisi hingga seniman dan warga biasa. Ia tak pernah menciptakan jarak sebagaimana sering dilakukan para tokoh pada umumnya.
Semangat pertemanan dan persaudaran yang dimilikinya demikian luar biasa. Ruang kerjanya di PBNU tak pernah sepi dari tamu yang beragam jenisnya. Pintu rumahnya di Ciganjur juga selalu terbuka untuk siapa saja, bahkan ketika matahari belum menampakkan wujudnya. Urusan para tamu juga macam-macam. Tak jarang sekedar minta ongkos untuk pulang.
Bukan hanya tercermin dari sikapnya yang terbuka dalam menerima siapa saja, semangat persaudaraan Gus Dur juga tercermin dalam separuh masa hidupnya, yang dihabiskan dengan bersilaturahmi ke mana saja. Sejak pulang dari belajarnya di Baghdad, Irak, hidup Gus Dur dipenuhi oleh safari keliling Nusantara. Ribuan tempat telah ia kunjungi, ribuan rumah sudah ia masuki, juga pesantren dan makam wali-wali. Gus Dur membangun dan menjaga hubungan bukan hanya pada mereka mereka yang masih hidup tetapi juga yang sudah mati.
Di dunia ini, barangkali tak ada orang yang begitu sering tidur di rumah orang melebihi Gus Dur. Berbeda dengan kebanyakan tokoh yang kalau jalan-jalan ke luar kota menginap di hotel-hotel berbintang, Gus Dur lebih memilih tidur di pesantren atau di rumah teman dan kerabatnya. Gus Dur tampaknya menyadari bahwa momen-momen’ jagongan malam’ yang sering melahirkan perbincangan mendalam dan kedekatan hanya mungkin tercipta jika ia menginap di rumah teman yang bersangkutan—alih-alih di hotel atau penginapan.
Ahmad Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan salah satu teman Gus Dur bercerita bahwa ketika berkunjung ke Banyumas Gus Dur selalu mampir dan tidur di rumahnya, yang mana hal itu membuat mereka berdua bisa berbincang dan berdiskusi hingga larut malam. “Gus Dur rela tidur di rumah saya dengan hanya beralaskan karpet biasa, yang mana hal itu membuat saya menangis,” kata Tohari.
Ya, meski seorang tokoh besar, Gus Dur adalah sosok yang sederhana. Ia bisa tidur di mana saja, memakai baju sobek yang lantas dijahit kembali oleh istrinya, atau naik bus kota.
Semangat silaturahmi dan pertemanan Gus Dur membuat ia bersemayam di hati para teman dan kerabatnya. Pendeta Phil Karel Erari dari Papua, misalnya, begitu tersentuh dengan kedatangan Gus Dur waktu meninggalnya istrinya. Padahal waktu itu Gus Dur sendiri sedang sakit. “Semangat persaudaran dan kemanusiaan Gus Dur sungguh tida bandingannya,” kata pendeta.
Dengan luasnya pertemanan dan persaudaraan yang dibangunnya, Gus Dur memiliki kemungkinan yang tidak dimiliki orang lain dalam menggerakkan ‘massa’. Banyak gerakan telah ia buat bersama teman dan jaringannya. Komunitas diskusi reboan bersama Djohan Effendi dkk, Forum Demokrasi bareng Marsillam Simandjuntak dkk, hingga NU dan PKB. Pertemanan yang ia bangun bersama para pastur dan tokoh-tokoh agama lain telah melahirkan jaringan lintas agama yang bisa kita saksikan hingga sekarang.
Sangat jelas bahwa jaringan pertemanan dan persaudaraan yang dibangun Gus Dur selalu berujung pada ikhtiar dalam menciptakan kebaikan (amar makruf) dan menekan atau menghindari kerusakan (nahi munkar). Solidaritas atas tindakan memang tidak akan tercipta jika tidak ada jaringan, keterkaitan dan pertemanan, dan hal itu tampaknya sangat disadari oleh Gus Dur. Mengorganisir warga (organizing people) adalah salah satu syarat bagi sebuah gerakan, dan Gus Dur melakukannya nyaris sepanjang masa dewasanya. []