kapong | 1 tahun lalu | dibaca 490 x
Bertahan Dengan Air Mata Dewa Ditengah Kepuangan Laut
“ini air mata dewa’, kata pak Tam, ketika menyodorkan satu ember air untukku ketika hendak menumpang mandi di rumah panggungnya. Pak Tam, adalah satu diantara sekiatar 300an penduduk Pulau Tanimbar-Kei di kepulauan Kei Kecil, kabupaten Tual, Maluku tenggara yang sehari-harinya mengkonsumsi air mata dewa. Air mata dewa hanyalah kiasan, untuk menyebut air hujan. Di tengah kepungan laut, praktis penduduk pulau ini bergantung pada turunnya hujan, karena sumber air terkooptasi garam laut. Jatah satu ember pun saya gunakan sehemat mungkin untuk mandi dan wudlu. Dari beberapa informasi yang kudapat setelah bertemu banyak orang disini, mereka sangat harus berhemat dengan air, untuk keberlanjutan hidupnya. Mandi, bisa dibilang tidak menjadi prioritas daripada untuk alokasi dapur. Semula saya tidak menyadari bagaiamana proses mereka menampung air mata dewa tersebut. Saya tidak memperhatikan alat atau bentuk apa yang digunakan. Penasaranku terjawab ketika aku berkeliling pemukiman. Mataku terfokus pada atap-atap rumah panggung. Saya menemukan talang mirip dengan saringan para penjual bensin eceran, namun bentuknya dua kali lipatnya dari bahan lempengan besi (seng). Talang-talang tersebut terpasang di pojok atap rumbia, untuk menggiring air hujan menuju penampungan atau kolam. Kolam ini cukup besar, jauh besar dari kolam yang biasanya dimiliki pesantren atau masjid tempo dulu sebagai tempat air wudlu. Yang juga unik adalah sistem kerjasama dalam pengelolaannya. Biasanya, beberapa keluarga, bisa sampai lima keluarga, ‘patungan’ membuat satu kolam besar untuk menghubung talang-talang dari rumah mereka masing-masing. Mekanisme jatah perharinya sesuai kesepakatan, dengan prinsip sehemat mungkin, karena mereka sadar bahwa persediaan air tergantung seberapa sering air dewa menetes ke atap genting rumbia rumah mereka dan seberapa hemat mereka memanfaatkannya. Air mata dewa praktis digunakan untuk memasak, dan sebagin untuk mandi. Sebagaian juga ada yang menggunakannya untuk mencuci. Untuk beberapa rumah dan juga WC umum, mereka mengisinya dengan air sumur di dekat pantai. Mungkin bagi rumah yang dekat dengan pantai, tidak terlalu repot, tapi bagi keluarga yang terletak di bukit, harus menempuh perjalanan yang berliku dan melewati tangga yang cukup tinggi penghubung pemukiman bawah (pantai) dengan bukit. Bagi sebagian keluarga yang mampu, mereka bisa membeli air mineral dari kota, yang biasanya menitip pada siapa saja yang pergi kota menjual hasil tangkapan ikan atau rumput laut. Itupun belum tentu seminggu sekali, mengingat jarak tempuh pulau ke daratan kota sekitar 4 jam menggunakan perahu. Itupun kalau musim baik, jika gelombang tinggi lalu lintas ke kota praktis berhenti total. Sampai saat ini, pemerintah belum mempunyai program untuk air bersih di tanimbar Kei. Sangat ronis, karena pulau tersebut menjadi target tujuan wisata budaya oleh pemerintah. Jika anda mendarat di bandara Tual, persisnya di ruang tunggu terpampang iklan tentang pulau Tanimbar Kei ukuran besar. Sebagai wilayah yang menjual pariwisata, selakyanya pemerintah peduli terhadap hak penduduk akan air. Setidaknya sebagai kompensasi. Dari obrolan dengan beberapa penduduk, mereka sangat berharap ada pihak luar yang dapat menjamin kebutuhan air mereka. Entah apapun bentuknya, karena air mata dewa sejatinya tidak cukup menutup kebutuhan dasar mereka. Adapun selama ini yang mereka lakukan tak lebih hanya untuk bertahan di tengah kepungan laut. Maret, 2010

People+Community

Science+Technology

Sport+Health

Creative+Business

Art+Culture

Syndicate Blogs

Agenda
VOTE: Voice from the East
Glen Fredly, Edo Kondolongit dkk
Yogyakarta, 14 April 2012

Breaking News

1 tahun lalu | baca: 1199x
1 tahun lalu | baca: 3457x
2 tahun lalu | baca: 2426x
2 tahun lalu | baca: 1630x
2 tahun lalu | baca: 1906x
2 tahun lalu | baca: 2682x

Most Popular

2 tahun lalu | baca: 5664x
2 tahun lalu | baca: 5075x
2 tahun lalu | baca: 5018x
1 tahun lalu | baca: 4425x
1 tahun lalu | baca: 3457x
2 tahun lalu | baca: 2682x
2 tahun lalu | baca: 2454x

Contibutors

User Info
Online: 14
Member: 0 | Tamu: 14
Hari ini: 37
Total Visitor: 104580
Sejak 07/Feb/2011