Sebenarnya saya sudah lama mendengar tarian Dero. Tahun 2010 saya berkunjung ke Poso, tepatnya di kota Tentena. Sejak saat itulah saya mengenal lebih jauh tentang tarian Dero. Bahkan saya melihat sendiri bagaimana masyarakat melakukan tarian tersebut. Masyarakat berkumpul dihalaman rumah yang lapang dan membentuk lingkaran. Mereka saling berpegangan tangan dengan mengentakkan kaki sekali kekiri kemudian dua kali kekanan mengikuti irama musik.
Menurut Daud Somba, tarian Dero ini merupakan tarian khas Sulawesi Tengah yang dilakukan pada saat sukacita seperti ucapan rasa syukur ketika panen (Padungku), menyambut tamu hajatan pernikahan dan sukacita lainnya. Siapapun bisa bergabung untuk mengikuti tarian Dero tanpa memandang status sosial, agama, politik, jenis kelamin ataupun etnis. Ketika masuk dalam lingkaran, mereka menjadi setara.
Konon pasca konflik, tarian tersebut justru menjadi pemersatu antara kedua kelompok Islam dan Kristen. Tahun 2004 di Matako sendiri diadakan tarian Dero dan ditempatkan di lapangan. Menakjubkan, karena banyak sekali yang datang mengikuti tarian tersebut. Bahkan diantara mereka tidak saling kenal dan tidak tahu dari mana mereka datang. Mereka saling berpegangan tangan dan melakukan tarian Dero bersama. Terciptalah suasana damai tanpa ada pertengkaran ataupun kekisruhan. Maka tarian Dero disebut-sebut sebagai tarian pemersatu yang menciptakan perdamaian.
Namun entah kenapa, akhir-akhir ini ketika saya datang ke Poso pada bulan July 2012 saya mendengar pembicaraan yang tidak mengenakkan tentang Dero. Bahkan menurut salah satu teman di Poso, beberapa kali acara tarian Dero dibubarkan paksa oleh kelompok tertentu. Dia menyebutnya kelompok “congklang”. Padahal tarian Dero merupakan budaya tarian yang telah dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Tengah sejak nenek moyangnya, dan tarian tersebut justru menjadi tarian pemersatu masyarakat dari kalangan manapun tanpa melihat status.
Terakhir kejadian pembubaran tarian Dero pada tanggal 28 Juni 2012 di jalan Morotai. Mereka tiba-tiba datang dan membubarkan aktifitas Dero, bahkan mereka sempat merusak beberapa properti. Alasanya adalah karena tarian Dero ini menimbulkan keresahan ditingkat masyarakat dan mereka yang menari adalah laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Menanggapi hal tersebut, salah satu sumber membarikan komentar bahwa kalau kelompok itu tidak sepakat dengan Dero ya tidak usah ikut Dero, atau kalau tidak boleh berpegangan tanga ya tidak usah berpegangan tangan.
Namun bagi masyarakat Poso lainya, ancaman ini tidak bisa dibiarkan karena sudah mengancam budaya yang sudah ada sejak nenek moyangnya dulu. Untuk itu menurut Daud, saat ini para pemuda di Poso justru akan mengadakan festival Dero karena mereka yakin bahwa tarian Dero bukan tarian yang menimbulkan masalah tapi justru tarian pemersatu antar masyarakat. [mh]